Senin, 14 Januari 2013

PENERAPAN ETIKA BISNIS PADA PT AS-TRA


Program CSR As-tra meliputi bidang : program bantuan kemanusiaan, pendidikan dan program peningkatan pendapatan.

Program CSR yang dilaksanakan oleh perusahaan As-tr menanamkan konsep corporate social responsibility (CSR) agar lebih sejalan dengan filosofi As-tr untuk menjadi asset bagi bangsa dan Negara. Pendekatan triple bottom line diluncurkan agar perusahaan tidak saja mengutamakan profit, tapi juga lingkungan dan lingkungan sosial. Oleh sebab itu Grup As-tr selalu berupaya selalu terdepan dalam bidang CSR, meski dilakukan tanpa diketahui banyak pihak. Focus utama dalam program adalah bidang pendidikan dan Income Generating Activities.

Pelaksanaan program CSR sebagai bentuk komitmen dan tanggung jawab perusahaan dilakukan pada daerah-daerah di tempat anak cabang perusahaan dan wilayah sekitar perusahaan As-tr di Priuk, Jakarta utara. Untuk program CSR yang dilakukan perusahaan As-tr untuk daerah sekitarnya antara lain:
-       Dalam bidang program bantuan kemanusiaan,  As-tr memberikan bantuan bagi para korban bencana alam yang terjadi pada saat berlangsungnya program CSR dan jangkauannya ke seluruh penjuru wilayah Indonesia yang mengalami bencana. Perusahaan As-tr juga memiliki program yang memiliki prospek yang berkelanjutan yaitu perbaikan infrastruktur sekolah melalui bedah sekolah, rehabilitasi puskesmas di wilayah sekitar perusahaan As-tr. Concern pada perbaikan dan pembangunan gedung sekolah menjadi target program yang sedang berlangsung sekarang ini, hal ini dianggap memberikan manfaat untuk orang banyak dengan harapan menghasilkan aset bangsa untuk memajukan pedidikan bangsa. Manfaat ini juga nantinya dapat dirasakan antar-generasi.  
-       Dalam bidang pendidikan merupakan fokus utama As-tr dalam program pengembangan masyarakatnya. Bantuan dalam bidang pendidikan yaitu berupa pemberian beasiswa kepada siswa SD, SMP, SMA di wilayah dimana PT. As-tr Internasional beroperasi juga berbagai pembinaan sekolah. Selain itu As-tr membuka kesempatan pada siswa SMK atau Perguruan Tinggi yang memenuhi syarat untuk melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL).
-       Sedangkan dalam bidang program peningkatan pendapatan yang bertujuan mengoptimalkan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan serta pembangunan jaringan dan pertumbuhan usaha kecil  untuk mencapai kemandirian masyarakat merupakan salah satu fokus utama perusahaan dalam menjalankan CSR-nya. As-tr memberikan fasilitas-fasilitas pendukung dan kegiatan pemberdayaan agar kegiatan usaha masyarakat dapat berkesinambungan. Kegiatan yang dilakukan yaitu berupa produksi kain majun dan pemberian bantuan Microfinance kepada para ibu rumah tangga yang memeiliki usaha kecil.
Program Income Generating activity (IGA) menggunakan pendekatan pengembangan masyaraka,  untuk wilayah komunitas lokal sendiri dilaksanakan kelurahan Sungai Bambu di RW 08 dan 09, Sungai bambu dengan jumlah total peserta 47 ibu rumah tangga yang terbag ke dalam kelompok-kelompok. Produk yang dihasilkan yaitu hasil jahitan kain majun. Hasil jahitan ini kemudian di pasarkan dan menjadi konsumsi bagi AUTO 2000 dan PT As-tr Daihatsu Motor. Pengembangan melalui pemberdayaan ibu rumah tangga ini sudah dilakukan sejak tahun 2006-2007 hingga sekarang As-tr juga bekerja sama dengan Dompet Dhuafa untuk menjalankan program ini. Harapan jangka panjang As-tr dari kegiatan ini dimaksudkan untuk menciptakan UKM yang Berdikari (berdiri di kaki sendiri), mandiri dalam kegiatan produksi hingga distribusi. Mekanisme bantuan mulai dari Micro Finance yaitu pinjaman lunak tnpa bunga atau dengan bunga rendah untuk pengembangan keterampilan yang ada di masyarakat. banyak ragamnya antara lain untuk tehnik pembuatan makanan, produksi kain, produksi barang-barang kebutuhajn dan sebagainya. Kendala yang dialami dari sisi perusahaan yaitu merasa disepelekan dengan pinjaman tanpa bunga sehingga program tidak berjalan karena masyrakat yang tidka sabar dan inovatif dalam persaingan usaha. Untuk itu perusahaan melihat perlunya meknaisme kontrol sebagai monitoring terhadap kegiatan di masyarakat melalui angket penilaian dan turun langsung ke masyarakat satu minggu sekali. Kesolidan teamwork menjadi kunci untuk dapat memaintain program kegiatan yang dilakukan, tidak jarang juga top management turun langsung untuk melihat sejauh mana program telah dilaksanakan. Dalam menghadapi persaingan, UKM-UKM ini juga harus siap melakukan inovasi.

 As-tr memiliki 2 kerangka kerja yaitu As-tra Friendly Company (AFC) dan Astra Green Company (AGC). AGC memberikan landasan dalam pengelolaan Lingkungan, Kesehatan & Keselamatan Kerja (LK3).Sedangkan AFC menggariskan ketentuan akan pentingnya pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan dengan memperhatikan kesadaran sosial yang diterapkan melalui implementasi kegiatan di bidang Pengembangan Masyarakat.

As-tr Friendly Company (AFC) merupakan  sistem standar manajemen  bagi Perusahaan Astra Internasional dalam hal pelaksanaan CSR.  AFC berlandaskan pada 3 pilar utama , yaitu
1.    Value, program yang dilakukan As-tr memiliki landasan/dasar yang sesuai dengan filosofi (Catur Dharma), visi,
2.    Mindset, pelaksanaan yang sistematis dan terstruktur. Dengan identifikasi dampak sosial-bisnis, stakeholders, menyusun program sesuai persepsi dan harapan stakeholders, menentukan indikator keberhasilan, dan terakhir melakukan review secara berkelanjutan sebagai upaya monitoring.
3.    Behaviour, seluruh program CSR yang dilaksanakan dimaksudkan untuk memenuhi hak stakeholders terkait.

Keseluruhan pilar dasar tersebut lalu teruang dalam satu buku “Panduan Kriteria Asesmen Astra Friendly Company” yang berisikan kriteria- kriteria AFC dan digunakan sebagai pedoman untuk pengarahan kualitas hubungan sosial perusahaan dengan stakeholdernyayang keseluruhannya merupakan objek standar penilaian kinerja CSR. Kinerja AFC Astra dievaluasi setiap tahun berdasarkan panduan kinerja yang ditetapkan. Akan tetapi, penentuan prioritas program CSR berbeda antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya, disesuaikan dengan karakteristik bidang usaha, alokasi dana dan sumber daya. Penilaian kinerjanya pun bersifat kompeherensif meliputi tingkat pencapaian sistem manajemen, aktivitas dan program yang menggunakan Key Performance Indicator (KPI) sebagai sistem peringkat, dimulai dari bintang satu untuk pencapaian yang terendah dan bintang lima untuk pencapaian paling tinggi.

As-tr Green Company  ( AGC) merupakan kerangka kerja perusahaan dibawah kelompok usaha as-tr, atau juga sebagai guidelines, petunjuk pelaksanaan kerja perusahaan dengan pengelolaan lingkungan, kesehatan dan keselamatan (LK3). Dalam komitmennya dalam mengelola LK3 perusahaan harus berlandaskan pada:
-          Strategi bisnis perusahaan (Green Strategy)
-          Proses bisnis yang aman,nyaman dan bersih (Green Process)
-           Pengembangan produk yang ramah lingkungan (Green Product)
-           Pengembangan kompetensi sumber daya manusia (Green Employee).

Dalam rangka  mewujudkan pelaksanaan usaha As-tr yang dapat bertahan dan berkembang, perusahaan senantiasa menjalankan upaya yang sistematis, terintegrasi dan berkesinambungan, mulai dari persiapan, pelaksanaan dan monitoring. Melalui mekanisme award yang diselenggarakan As-tr Internasional merupakan bentuk penghargaan bagi kelompok usaha As-tr dan mendapatkan image baik dengan label ‘green’. Penilaian dilakukan dengan sistem peringkat dengan urutan tertinggi hingga terendah sebagai berikut : emas, hijau, biru, merah, dan hitam.

PENERAPAN ETIKA BISNIS DIBIDANG MANAJEMEN KEUANGAN DALAM PERUSAHAAN


Peranan Manajemen Keuangan dalam Perusahaan (Peluang Karier dalam  Manajemen Keuangan)

Peranan manajemen keuangan dalam perusahaan adalah sebagaiberikut:
a.        Bertanggung jawab terhadap tiga keputusan pokok manajemenkeuangan pemerolehan (acquisition), pembiayaan/pembelanjaan(financing), dan manajemen aktiva secara efisien.
b.       Meningkatkan pertumbuhan ekonomi, sehingga kesejahteraanmasyarakat meningkat.
c.        Menghadapi tantangan dalam mengelola aktiva secara efisien dalamperubahan yang terjadi pada: persaingan antarperusahaan; perekonomian dunia yang tidak menentu; perubahan teknologi; dantingkat inflasi dan bunga yang berfluktuasi.

Fungsi-fungsi Manajemen Keuangan

Adapun fungsi-fungsi dari manajemen keuangan adalah sebagai berikut:
1.       Fungsi penggunaan dana (allocation of fund)
-  Keputusan investasi/capital budgeting/investment decision
-  Pembelanjaan aktif
-  Bagaimana menggunakan dana secara efisien
- Alokasi ke AL & AT (aktiva riil)
2.       Fungsi mendapatkan dana (raising decision)/obtion of funds
- Keputusan pembelanjaan//mancmg decision
- Pembelanjaan pasif
- Bagaimana memperoleh dana yang paling efisien (murah)
- Tercermin di neraca sisi pasiva

Keputusan dalam Manajemen Keuangan
1.   Keputusan investasi (investment decision)
 Keputusan ini meliputi penentuan aktiva riil yang dibutuhkan untuk dimiliki perusahaan.
2.  Keputusan pembelanjaan (financing decision)
Keputusan yang berkaitan dengan bagaimana mendapatkan dana yangakan digunakan untuk memperoleh aktiva riil yang diperlukan.
3.   Kebijakan dividen (dividend policy)
4.   Keputusan manajemen aktiva
Keputusan yang berkaitan dengan pengelolaan/penggunaan aktivadengan efisien (biasanya lebih memerhatikan manajemen aktiva lancar(kas, piutang, dan sediaan).

Tujuan Manajemen Keuangan
Setiap perusahaan pasti memiliki tujuan dan sasaran yang hendakdicapai, baik jangka panjang maupun jangka pendek. Perkembangansasaran/tujuan daripada perusahaan adalah sebagai berikut.
Tujuan tradisional, yaitu memaksimalkan laba sudah tidak relevanlagi. Alasan memaksimalkan laba berarti tidak mempertimbangkan nilai waktu uang, risiko dan return masa datang tidak dipertimbangkan, serta kebijakan dividen tidak dipertimbangkan. Memaksimalkan nilaiperusahaan/kesejahteraan para pemegang saham melalui memaksimumkan harga pasar saham perusahaan.
Tujuan yang lebih tepat/relevan adalah dengan alasan harga pasar mencerminkan evaluasi pasar terhadap prestasi perusahaan saat ini danmasa yang akan datang, mempertimbangkan kapan return diterima, jangkawaktu terjadinya, risiko dari return, dan kebijakan dividen. Adapun salah satu tujuan manajer keuangan adalah merencanakan untuk memperoleh dan menggunakan dana untuk memaksimalkan nilai obligasi.

1.     Fungsi Utama Manajer Keuangan
Fungsi utama manajer keuangan adalah merencanakan, memperoleh,dan menggunakan dana untuk menghasilkan kontribusi yang maksimumterhadap operasi yang efisien dari suatu organisasi.
Manajemen keuangan sering disebut 'Manajemen Aliran Dana', karena:
a.   Dari waktu ke waktu akan ada dana yang masuk dan keluar dari per­usahaan.
b.   Dana yang berasal dari berbagai sumber (internal dan eksternal financing) dialokasikan untuk berbagai penggunaan.

2.     Sejarah Perkembangan Keuangan
Disiplin ilmu manajemen keuangan mengalami perkembangan daridisiplin yang deskriptif menjadi analisis dan teoretis. Dari yang lebihmenitikberatkan dari sudut pandang pihak luar menjadi berorientasipengambilan keputusan bagi manajemen.

Prinsip-Prinsip Dasar Akuntansi
Akuntansi keuangan menggunakan prinsip akuntansi yang berlaku umum (general accepted accounting principles) dalam membuat laporan. Prinsip dan konsep akuntansi dikembangkan dari hasil penelitian, praktik akuntansi sehari-hari, dan pengumuman dari lembaga yang berwenang, yaitu:
1.    Financial Acounting Standards Boar (FASB), menerbitkan statement of Financial
      Acounting Standards and Interpretations.
2.    katan Akuntansi Indonesia (IAI).
Permasalahan muncul dari adanya pemisahan antara manajemen dan penyandang dana, di mana manajer berusaha untuk meningkatkan insentif mereka dalam rangka memakmurkan dirinya dan mengabaikan tugas utamanya yaitu memaksimumkan kemakmuran pemilik. Hal ini bisa dilakukan dengan berbagai cara di antaranya adalah pengeluaran untuk manajemen. Sistem akuntansi keuangan menyediakan informasi yang penting untuk Governance Mechanisms, yang membantu memecahkan masalah keagenan. Penggunaan informasi akuntansi dalam Governance Mechanisms bisa dalam bentuk implisit atau eksplisit.
Penggunaan perjanjian yang berbasiskan dasar akuntansi dalam kontrak obligasi adalah salah satu contoh dari penggunaan informasia kuntansi secara eksplisit. Penggunaan informasi akuntansi untuk menyeleksi perusahaan yang akan dijadikan target take over adalah contohdari penggunaan informasi akuntansi secara implisit. Informasi akuntansi keuangan merupakan produk dari proses governance, informasi akuntansi keuangan dihasilkan oleh manajemen dan manajemen mengetahui informasi ini akan digunakan sebagai input dalam proses governance di bawah ini dijelaskan mengenai informasi akuntansi keuangan sebagai produk dari proses governance, penggunaan informasi akuntansi secara eksplisit, danimplisit.

1.     Informasi Akuntansi Keuangan Sebagai Produk dari Proses Governance
Proses bagaimana informasi akuntansi lahir dan merupakan suatu tanggung jawab dapat dilihat pada kasus Amerika dan bisa diapl'kasikan ke negara lainnya. Proses pelaporan keuangan bagi perusahaan, umumnya diatur oleh pemehntah atau sistem hukum yang berlaku (kalau di AmerikaSEC) dan hams mengacu pada prinsip Akuntansi yang Berterima Umum(GAAP). Laporan keuangan juga akan diaudit oleh Kantor Akuntan Publik(audit eksternal) untuk diperiksa apakah dalam menyiapkan laporan keuangan sudah sesuai dengan aturan dan prinsip yang berlaku? Perusahaan kemudian menunjuk Audit Committee dari anggota Board of Director, yang mengawasi penyelesaian laporan keuangan dan berkomunikasi dengan auditor eksternal sebagai wakil dari investor.
Banyak peneliti yang mengkaji bagaimana kualitas sistem pelaporan keuangan dihubungkan dengan bentuk dan mekanisme governance lainnya(di antaranya adalah La Porta, Lopez-De-Silanes, Shleifer and Vishny, 1998; Bushman, Chen, Engel dan Smith, 2000). Penelitian lainnya juga mengembangkan literatur tentang isu lainnya yang berhubungan dengankualitas sistem pelaporan keuangan. Literatur ini dibagi atas tiga kelompok.Kelompokpertama mengkaji tentang kualitas disclosure dengan biaya modal (contoh, Lang and Lundholm, 1996; Botosan, 1997; dan Botosan dan Plumlee, 2000). Corporate Governance dijadikan sebagai ukuran apakah perusahaan yang dijadikan contoh transparan atau tidak, khususnya ter-hadap kreditor. Hasil penelitiannya tidak bervariasi, ada yang menemukan tingkat disclosure memengaruhi biaya utang dan sebagian lagi tidak.
Kelompok kedua menguji tentang efektivitas mekanisme pengawasan spesifik terhadap proses pelaporan keuangan. Area ini termasuk kajian tentang kualitas audit (contoh, Becker, DeFond, Jiambalvo dan Subramanyam, 1998; Francis, Maydew dan Sparks, 1999) dan kualitas BOD dan Komite Audit (contoh, Beasley, 1996; Dechow, Sloan dan Sweeney, 1996; Carcello dan Neal, 2000; Peasnell, Pope dan Young, 2000). Kelompok ketiga mengkaji sebab dan akibat gagalnya proses pelaporan keuangan penelitian. Ini memfokuskan pada faktor-faktor yang memengaruhimanajemen earning (contoh, Rangan, 1999; Teoh, Wong and Welch, 1999)dan manipulasi earning (contoh; Feroz, Park dan Pastena, 1991; Dechow,Sloan dan Sweeney 1996).

2. Penggunaan Informasi Akuntansi Secara Eksplisit dalam CorporateGovernance
Penggunaan informasi akuntansi secara eksplisit dalam kontrakantara manajemen dan individu atau lembaga yang memberikan dana pada perusahaan merupakan contoh dari penggunaan informasi akuntansi dalammekanisme governance, khususnya penggunaan informasi akuntansi sebagai alat ukur kinerja manajemen pada kontrak mengenai sistem kompensasi untuk manajemen. Ini merupakan gambaran peran informasi akuntansi dalam mekanisme governance. Kompensasi yang berbasiskan laporan keuangan hanya merupakan bagian kecil dari insentif yang ada. Insentif yang berdasarkan kenaikan harga saham cenderung sebagai dasar mereka investor untuk memberikan insentif pada manajemen (penelitian tentang isu ini telah dilakukan peneliti di antaranya adalah Murphy, 1985; Core, Guay and Verrecchia, 2000).
Berlawanan dengan literatur tentang peran informasi akuntansi dalam kompensasi di atas, penggunaan informasi akuntansi secara eksplisit pada perjanjian utang masih berlanjut. Namun, bagaimanapun peran informasi akuntansi pada kontrak keuangan terus berlangsung perkembangannya dan mendapat sambutanyang menggembirakan, khususnya perjanjian peminjaman dan pelunasanutang. Contoh penggunaan informasi akuntansi adalah berapa bunga harus dikenakan pada perusahaan didasarkan atas kekuatan keuangan perusahaan dan ini didasarkan atas data akuntansi. Data akuntansi dianalisis untuk dijadikan rasio-rasio keuangan dan dikelompokkan atas beberapa aspek di antaranya likuiditas, solvabilitas, efektivitas, dan profitabilitas.

3. Penggunaan Informasi Akuntansi Secara Implisit dalam Corporate Governance
Penggunaan informasi akuntansi secara implisit dalam mekanismecorporate governance merupakan peran informasi akuntansi yang palingpenting. Dalam konteks ini, evaluasi dan peran akuntansi menjadi salingberhubungan. Dalam konteks bahwa investor bersedia berinvestasi padaperusahaan merupakan fungsi information efficiency dan tingkat likuiditaspasar modal. Sehingga penelitian akuntansi yang berbasiskan pasar modal dan memfokuskan penggunaan informasi akuntansi dalam penilaian surat-surat berharga merupakan implikasi pada isu corporate governancedalam rencana kapitalisasi modal pada saham-saham yang dapat memberikan kontribusi optimal. Dengan demikian, sistem informasi akuntansi terhadap pasar modal akan dapat membantu tata kelola keuangan perusahaan sebelum melakukan interaksi dengan pasar modal. Tapi, daripada memfokuskan pada peran governance akuntansi melalui perannya dalam memfasilitasi infor­mational efficiency harga saham. Bahkan informasi akuntansi kelihatannya secara langsung memfasilitasi jalannya mekanisme governance spesifik.
Penelitian empiris mendukung bahwa informasi akuntansi secaraimplisit digunakan dalam mekanisme governance yang beragam. Ada dua area, kajian tentang peran informasi akuntansi dalam mekanisme corporate governance, yaitu legal protection dan large investor. Dalam kategori legal protection, ada beberapa penelitian telah mendokumentasikan peran informasi akuntansi dalam menjalankan hak legal investor dalam melawan manajemen. Investor tidak bisa membawa masalah tersebut ke pengadilan karena manajemen telah melakukan kecurangan atau kegiatan yang tidaksesuai dengan apayang digariskan oleh investor (pemilik).
Oleh karena itu, sistem pelaporan keuangan adalah mekanismeinternal utama yang memberi fasilitas komunikasi antara manajemen daninvestor. Penelitian mendokumentasikan bahwa masalah akuntansi danpengungkapan sangat berhubungan dengan perkara hukum pemegangsaham dan bahwa manajemen melakukan seolah-olah mereka memanage strategi pelaporan keuangan untuk mengurangi biaya yang berhubungandengan perkara hukum investor (contoh, Kellogg, 1984; Francis, PhilbrickdanSchipper, 1994; Skinner, 1994; Skinner 1996). Informasi akuntansi jugamemainkan peran penting dalam menjalankan hak kreditor dalam kasustidak dilunasinya utang perusahaan atau dalam kondisi bangkrut.
Pada kategori kedua, bahwa informasi akuntansi secara implisitmemfasilitasi jalannya mekanisme governance adalah large investor. Large investor bisa memengaruhi tindakan manajemen melalui Board of Director(BOD), yaitu otoritas untuk menggunakan manajemen atau memberhentikannya. Pada penelitian akademik memyimpulkan bahwa BOD menggunakan kinerja laba akantansi sebagai input untuk keputusan memberhentikan manajemen (Weisbach, 1988). Namun demikian, dalambanyak kasus, investor yang memiliki saham besar tidak mempunyai hak suara mayoritas di dewan komisaris dan mungkin harus mengambil tindakan yang lebih drastis seperti take over atau proxy contest untuk merebut kontrol BOD dan mendisiplinkan manajemen. Penelitian juga menemukan bahwa pengukuran kinerja akuntansi berhubungan keputusan take over (Palepu, 1986), proxy contest (DeAngelo, 1988), dan institutional investor activism(Opler dan Sokobin, 1998).
Selain penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti di atas,banyak peneliti lain yang menguji pengaruh institutional investor activismter-hadap kinerja perusahaan telah banyak dilakukan dengan menggunakanminformasi akuntansi. Secara umum dilaporkan tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa aktivisme investor memengaruhi kinerja perusahaan.Walaupun sebagian kecil melaporkan bahwa ada pengaruh perusahaan yang menjadi target CalPERS terhadap tingkat pengembalian jangka panjang (Nesbitt, 1994). Tapi hasil Nesbitt (1994) disanggah oleh Guercio dan Hawkins (1997) yang menyimpulkan bahwa masih ada perusahaan yangmenjadi target CalPERS (perusahaan yang mempunyai kinerja tidak bagus),namun mempunyai pengaruh positif terhadap tingkat pengembalian.
Perubahan budaya memang tidak dapat diuji secara langsung, tetapi melalui perubahan governance yang didukung oleh institusi akan ber­dampak terhadap kinerja perusahaan. Bukti empiris menyimpulkan bahwa sudah tiga perubahan, yaitu: (i) perubahan komposisi dewan komisaris, (ii) komite nominasi dan kompensasi yang berasal dari dewan komisaris independen, dan (iii) pemisahan posisi pimpinan dewan komisaris dengan CEO. Investor institusi sangat mendukung yang duduk di dewan komisaris adalah komisaris independen. Tetapi tidak ada jaminan dengan banyak komposisi komisaris independen dan pemisahan posisi pimpinan dewan komisaris dengan CEO akan meningkatkan kinerja perusahaan secara keseluruhan (Klein, 1997b), Brickley, Coles, danjarrell (1997).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa informasi akuntansi memberikan input yang paling penting ke dalam mekanisme corporate governance, informasi akuntansi secara implisit digunakan baik untukmenunjukkan apakah aksi governance melawan manajemen dibutuhkan,dan untuk membantu menentukan pengeluaran stakeholder lainnya jika terjadi masalah hukum dan penurunan kinerja keuangan.